Prosesi upacara Tedhak Siten ketika seorang anak turun tanah , Tradisi Jawa yang mulai dilupakan ini digelar untuk seorang anak bernama Axel Bryan, putra pasangan Anton Sagita dan Ela Qomariyah
Menurut Ela, tradisi tedak siten ini penuh makna karena diyakini menjadi simbol penghormatan kepada bumi serta harapan baik bagi masa depan si buah hati.
Tedak Siten ini Lanjut Ela, digelar dengan hitungan Jawa untuk anak umur 7 Bulan, Ia sengaja melangsungkan prosesi Tedak Siten dengan mengundang anak-anak di kampungnya. Tujuan diadakannya tradisi ini adalah mengenalkan anak-anak dengan budaya Jawa tempo dulu yang kini mulai jarang dilakukan.Ungkap Ela
Tedak siten adalah bahasa simbolik yang mengajarkan tentang kearifan hidup, seperti bagaimana hubungan manusia dengan Sang Pencipta Alam dan Isinya.
Tradisi ini juga dikenal sebagai upacara turun tanah, tedhak berarti turun, dan siten berarasal dari kata siti yang berarti tanah. Prosesi ini juga bertujuan supaya anak tumbuh menjadi anak yang mandiri. Tedak siten biasanya digelar saat anak berusia tujuh atau delapan bulan.Ujar Ela
Selanjutnya seorang anak ditempatkan di dalam kurungan yang terdapat buku, pensil dan lain sebagainya. Beberapa benda itu nantinya dipilih oleh sang anak yang dipercaya akan menentukan profesi yang akan digeluti sang anak di masa yang akan datang.Terang Ela
Hadir dalam Prosesi ini Pengasuh Ponpes Al-Azis (Lora.Abd.Wahab) Sekaligus Mendo’akan Anak,Para Seseppuh,Juga dilibatkan Ibu Beserta Anak dan masyarakat ,yang nantinya mendoakan agar ke depannya sang anak lebih baik.
















