Konflik Perang Thailand dan Kamboja,Sepakati Gencatan Senjata
Pertempuran angkatan bersenjata Thailand dan Kamboja telah berlangsung sekitar 3 hari yang di picu terkait perbatasan kedua negara.
Penyebab Konflik ketegangan antara Thailand dan Kamboja meningkat sejak Mei 2025 setelah seorang prajurit Kamboja tewas dalam kontak senjata singkat di area perbatasan.
Baru – baru ini kedua negara telah sepakat menyetujui gencatan senjata setelah bentrokan bersenjata yang mengakibatkan puluhan orang tewas dan ratusan ribu warga mengungsi berawal angkatan bersenjata Kamboja melakukan penyerangan menggunakan artileri berat di perbatasan pada Kamis, 24 Juli 2025
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, selaku Ketua ASEAN, berperan sebagai mediator dalam konflik ini. Malaysia menyerukan kedau belah pihak Thailand dan Kamboja untuk menahan diri dalam konflik ini, agar tidak terjadi konflik meningkatkan di kawasan Asia Tenggara.
Diutip dan dilansir dari media Malaysiakini bahwa Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim meminta waktu kepada jedua negara untuk melaksanakan gencatan senjata karena pasukan militer sudah dikerahkan ke area perbatasan dan perlu ditarik mundur.
“Perlu waktu bagi kedua belah pihak untuk melaksanakan gencatan senjata karena pengerahan militer telah dilakukan di wilayah sengketa,” kata Anwar.
Dikutip dari unggahan X Kementerian Luar Negeri Thailand bahwa Pemerintah Thailand setuju dengan proposal dari Malaysia, namun memberikan syarat bahwa gencatan senjata harus berdasarkan kondisi lapangan yang sesuai ,
Sebelumnya pasukan bersenjata Kamboja dilaporkan melancarkan serangan besar-besaran menggunakan artileri berat dan sistem roket multi-laras BM-21 ke wilayah perbatasan Thailand, menyebabkan puluhan rumah hancur dan ribuan warga mengungsi.
Tak selang berapa lama angkatan bersenjata Thailand mengerahkan 6 jet tempur F 16. membalas serangan Kamboja dengan manerget titik strategis Pangkalan Militer Kamboja di Perbatasan
Selama dua hari terakhir konflik, Reuters mencatat setidaknya 16 korban tewas—14 di antaranya di Thailand, termasuk 13 warga sipil dan satu tentara. Di pihak Kamboja, satu korban tewas dan lima lainnya luka-luka.
Kekerasan yang terjadi juga menyebabkan krisis kemanusiaan. Pemerintah Thailand telah mengevakuasi lebih dari 100.000 warga dari empat provinsi perbatasan ke hampir 300 titik penampungan. Bentrokan bersenjata dilaporkan menyebar ke 12 lokasi berbeda, memperburuk dampak bagi warga sipil yang terjebak di zona konflik.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat atas permintaan Kamboja untuk membahas konflik ini.
Sementara itu dua negara adikuasa Amerika Serikat dan Tiongkok menyerukan agar Thailand dan Kamboja menahan diri dan menghentikan aksi militer.
(Red)















