Job Fair di Bekasi Jadi Sorotan Nasional Solusi atau Sekadar Formalitas ?

Job Fair di Bekasi Jadi Sorotan Nasional Solusi atau Sekadar Formalitas ?
Keterangan foto: Siti Palausna, seorang lulusan baru dari SMAN 2 Cikarang Utara, sebagai narasumber utama di Indonesia Lawyers Club (ILC)

Job Fair di Bekasi  Jadi Sorotan Nasional Solusi atau Sekadar Formalitas ?

Bekasi – Temporatur.com

Dalam episode terbaru program Indonesia Lawyers Club (ILC) yang dipandu oleh Karni Ilyas, perbincangan hangat terjadi seputar efektivitas penyelenggaraan job fair oleh pemerintah daerah. Mengangkat tema “Job Fair atau Ajang Formalitas?”, acara ini menghadirkan Siti Palausna, seorang lulusan baru dari SMAN 2 Cikarang Utara, sebagai narasumber utama.

Dalam dialog tersebut, Siti membagikan pengalamannya mengikuti sebuah job fair yang diselenggarakan pemerintah daerah. Ia mengungkapkan antusiasmenya sebagai pencari kerja muda yang berharap bisa langsung mengikuti proses rekrutmen di lokasi. Namun, realita yang dihadapi sangat berbeda dari ekspektasi.

“Dari awal masuk hingga akhir, tidak ada prosedur yang jelas. Kami hanya diminta scan barcode, tapi itu pun sulit karena jaringan buruk,” ungkap Siti. Ia juga menyebutkan kondisi yang tidak kondusif di lokasi, dengan kerumunan massa yang tidak terkelola, kurangnya arahan dari panitia, hingga minimnya kepedulian dari aparat yang hadir.

Lebih lanjut, Siti menceritakan berbagai kendala seperti peserta yang pingsan akibat berdesakan, kehilangan barang, serta kegagalan sistem barcode yang menghambat pengisian data pelamar. Bahkan, ia menyayangkan penutupan acara yang terjadi pukul 16.00 WIB, padahal antrean pelamar masih mengular.

Bacaan Lainnya

“Penyelenggara harus lebih serius. Harus ada panduan yang jelas, sistem yang berfungsi, dan pengaturan alur yang manusiawi,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Karni Ilyas menutup sesi dengan catatan kritis, “Keluhan Siti tentu mewakili banyak pencari kerja di luar sana. Semoga ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pihak terkait.”

Dialog malam itu menjadi pengingat bahwa di tengah krisis lapangan kerja, penyelenggaraan job fair tidak bisa lagi sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan harus menjadi solusi nyata dan profesional bagi masyarakat yang membutuhkan.

Fair di Bekasi Jadi Sorotan Nasional Solusi atau Sekadar Formalitas?

Bekasi – Temporatur.com

Dalam episode terbaru program Indonesia Lawyers Club (ILC) yang dipandu oleh Karni Ilyas, perbincangan hangat terjadi seputar efektivitas penyelenggaraan job fair oleh pemerintah daerah. Mengangkat tema “Job Fair atau Ajang Formalitas?”, acara ini menghadirkan Siti Palausna, seorang lulusan baru dari SMAN 2 Cikarang Utara, sebagai narasumber utama.

Dalam dialog tersebut, Siti membagikan pengalamannya mengikuti sebuah job fair yang diselenggarakan pemerintah daerah. Ia mengungkapkan antusiasmenya sebagai pencari kerja muda yang berharap bisa langsung mengikuti proses rekrutmen di lokasi. Namun, realita yang dihadapi sangat berbeda dari ekspektasi.

“Dari awal masuk hingga akhir, tidak ada prosedur yang jelas. Kami hanya diminta scan barcode, tapi itu pun sulit karena jaringan buruk,” ungkap Siti. Ia juga menyebutkan kondisi yang tidak kondusif di lokasi, dengan kerumunan massa yang tidak terkelola, kurangnya arahan dari panitia, hingga minimnya kepedulian dari aparat yang hadir.

Lebih lanjut, Siti menceritakan berbagai kendala seperti peserta yang pingsan akibat berdesakan, kehilangan barang, serta kegagalan sistem barcode yang menghambat pengisian data pelamar. Bahkan, ia menyayangkan penutupan acara yang terjadi pukul 16.00 WIB, padahal antrean pelamar masih mengular.

“Penyelenggara harus lebih serius. Harus ada panduan yang jelas, sistem yang berfungsi, dan pengaturan alur yang manusiawi,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Karni Ilyas menutup sesi dengan catatan kritis, “Keluhan Siti tentu mewakili banyak pencari kerja di luar sana. Semoga ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pihak terkait.”

Dialog malam itu menjadi pengingat bahwa di tengah krisis lapangan kerja, penyelenggaraan job fair tidak bisa lagi sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan harus menjadi solusi nyata dan profesional bagi masyarakat yang membutuhkan.

(ER)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *