Apakah Media Sosial Membuat Kita Lupa Tentang Etika ?

Apakah Media Sosial Membuat Kita Lupa Tentang Etika ?

Apakah Media Sosial Membuat Kita Lupa Tentang Etika ?

Temporatur.com

Ilustrasi maraknya pengguna media sosia yang merebak di era globalisasi dan menjadi bagian yang terelakkan dari kehidupan sehari-hari. (freepik.com/ Annas)

Perkembangan teknologi di era globalisasi yang begitu pesat menghendaki adaptasi dan responbilitas dari manusia. Media sosial, yang menjadi bagian yang tak terelakkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat global. Dari kalangan muda hingga tua, hampir setiap orang memiliki akun media sosial. Namun, dengan maraknya penggunaan media sosial, mencuat sebuah pertanyaan, apakah media sosial membuat kita lupa tentang etika?

Peran Media Sosial di Indonesia

Apakah Media Sosial Membuat Kita Lupa Tentang Etika ?
Apakah Media Sosial Membuat Kita Lupa Tentang Etika ?

Di Indonesia, media sosial juga turut berkembang masif. Menurut laporan We Are Social dan Hootsuite pada 2023, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia, dengan lebih dari 180 juta pengguna aktif. Media sosial menjadi sarana yang efektif untuk komunikasi, berbagi informasi, dan bahkan berbisnis. Ironisnya, seiring dengan peningkatan penggunaannya, timbul masalah yang tidak kalah besar, yaitu perilaku pengguna yang seringkali melanggar etika berkomunikasi.

Bacaan Lainnya

Etika Berkomunikasi di Media Sosial

Etika berkomunikasi di media sosial seharusnya mencakup sikap saling menghargai, menjaga sopan santun, dan tidak menyebarkan kebencian atau informasi yang salah. Namun, kenyataannya, media sosial kerap dipenuhi dengan fenomena negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, bahkan perundungan (bullying), yang tersebar tanpa kontrol yang jelas. Dalam banyak kasus, individu merasa bebas menyuarakan pendapat tanpa memperhatikan dampaknya terhadap orang lain.

Seperti salah satu kasus yang satu ini, Debiprt atau Debi Pratama, seorang food vlogger yang dua bulan lalu menjadi perbincangan usai ulasan negatif tentang sebuah warung rawon di Jogja. Video review yang diunggahnya menuai kritik dari warganet karena dianggap berlebihan dan cenderung menghina.

Seorang Food Vlogger peroleh daftar hitam dari para pengusaha F&B Jogja usai ulasannya yang dianggap menghina Warung Rawon, lagi-lagi berujung permohanan maaf. foto: Instageam @mood.jakarta © 2024_ Liputan6.com

Dalam postingan tersebut, Debiprt memberikan ulasannya, “Rawon tanpa setan harganya Rp17 ribu, nasinya Rp5 ribu, kuanya keasinan, pantas aja dipisah,” yang lantas diunggah kembali oleh akun Twitter atau X @gastronusa pada Senin, 30 September 2024 lalu.

Mengutip dari merdeka.com, akun tersebut juga membagikan foto yang menunjukkan wajah Debiprt yang telah di-blacklist oleh para pengusaha kuliner di Jogja. Dalam unggahan tersebut tertulis, “Kami pelaku usaha F&B Jogja sepakat untuk blacklist @debiprt.” Keterangan lebih lanjut menyatakan, “Dalam bisnis, risiko keuangannya besar. Merintis usaha itu gak mudah, bisa berujung pada utang bank. Di bawahnya lagi juga ada karyawan, yang mungkin lagi mencicil motor. Kelebihan yang kamu miliki bukan untuk merusak usaha orang lain.”
Sebelumnya, Debi Pratama tidak begitu dikenal publik, lantaran terbilang belum lama di dunia food vlogging. Tetapi, pasca video review warung rawon yang viral, dirinya seketika menjadi sorotan dan berujung masuk dalam daftar hitam pelaku bisnis kuliner atau F&B, terutama di daerah Jogja. Kegaduhan ini kian merebak ketika cuitan dari akun X @txtdrkuliner yang menghimbau untuk mem-blacklist Debi Pratama yang memperoleh lebih dari 700 ribu penayangan.

Kasus ini menggambarkan bagaimana etika berkomunikasi di media sosial sering diabaikan hanya demi sensasi, tanpa peduli merugikan orang lain atau tidaknya. Meski kebebasan berpendapat dijamin, penting untuk menyadari bahwa kebebasan ini tidak mengesampingkan tanggung jawab sosial.

Mengutip dari laman STIKES Banyuwangi, etika berkomunikasi di media sosial seharusnya berlandaskan pada rasa saling menghormati. Apa yang kita bagikan secara online, baik berupa komentar, gambar, atau status, seharusnya mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Kebebasan berekspresi memang penting, namun harus dibarengi dengan kesadaran tentang etika komunikasi yang baik.
Dampak Positif dan Negatif Media Sosial
Meskipun kerap dikenal sebagai hasil dari kemajuan teknologi digital, tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial justru membawa dampak negatif berupa kemunduran etika dan moral. Penggunaan media sosial yang kerap tidak terkontrol.

Hal ini menyebabkan masyarakat yang lebih hedonis, anak-anak kecil yang menjadi terbiasa menggunakan ungkapan kasar, penyebaran informasi yang tidak benar, terpicunya polarisasi dan kelas-kelas sosial yang kembali menguat, Cyberbullying, hingga merusak reputasi seseorang seperti pada contoh kasus sebelumnya. Akibatnya, etika dalam berkomunikasi sering terabaikan, dan hanya sedikit yang berpikir panjang tentang dampak dari unggahan yang mereka buat.

Namun, tentu saja media sosial tidak hanya membawa dampak buruk. Tetap ada banyak manfaat yang bisa diambil sebagai harapan dari kemajuan teknologi di era ini, seperti memudahkan akses informasi, memperluas jaringan sosial, dan memberikan ruang bagi suara-suara minoritas. Mengutip Medcom.id, media sosial juga memiliki peran penting dalam mendukung ekonomi digital Indonesia. Platform e-commerce, misalnya, semakin berkembang berkat adanya media sosial yang memfasilitasi promosi dan interaksi antara penjual dan pembeli.
Menindak lanjuti fenomena ini, menanamkan pendidikan tentang etika berkomunikasi, terutama di kalangan generasi muda semakin harus digencarkan kembali. Pendidikan ini tidak hanya melibatkan keluarga dan sekolah, tetapi juga masyarakat luas.

Di tingkat negara, pemerintah perlu menggencarkan kampanye untuk mengedukasi masyarakat melalui menkominfo, tentang pentingnya etika dalam berkomunikasi melalui media sosial. Ini bukan hanya soal apa yang dibagikan, tetapi juga bagaimana cara kita bersikap atau memberikan komentar terhadap orang lain di dunia maya.
Pengguna media sosial juga perlu lebih menyadari bahwa setiap unggahan yang mereka buat dapat mempengaruhi orang lain.

Referensi:
STIKES Banyuwangi. (n.d.). 5 Poin Penting, Etika Bermedia Sosial Wajib Diketahui. Diakses pada 04 Desember 2024, dari: https://stikesbanyuwangi.ac.id/etika-bermedia-sosial/
BPIP. (n.d.). Etika Berkomunikasi dalam Menggunakan Sosial Media Sesuai dengan Pancasila. Diakses pada 04 Desember 2024, dari: https://bpip.go.id/berita/etika-berkomunikasi-dalam-menggunakan-sosial-media-sesuai-dengan-pancasila
Hapsari, Ade. 2023. Cek Positif Negatifnya Saat Media Sosial Jadi Penyokong Era Digital. Medcom.id. Diakses pada 04 Desember 2024, dari: https://www.medcom.id/ekonomi/ekonomi-digital/0Kv0XQGb-cek-positif-negatifnya-saat-media-sosial-jadi-penyokong-era-digital
Aprilistya, dkk. 2023. Dampak Media Sosial Terhadap Penurunan Nilai Moral Dan Etika Generasi Muda. Surakarta: Universitas Sebelas Maret, Vol 2 (2), 150-155. Diakses pada 04 Desember 2024, dari: https://jurnal.uns.ac.id/indigenous/article/download/79375/pdf.**

Bekasi 12 Desember 2024

Penulis Opini : Muhammad Annas Febriansyah/ 312410042 (Mahasiswa Teknik Informatika-Universitas Pelita Bangsa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *