Jangan Mencela Penyakit

Jangan Mencela Penyakit

 

 

Jangan Mencela Penyakit

Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh pernah berkata :

“Adapun orang yam melaknat/mencela suatu penyakit dan apa saja yang  menimpanya yang merupakan perbuatan Alloh azza wa jalla (yakni yang berupa taqdir Alloh yang berlaku kepada hamba-Nya tersebut), maka ini adalah perbuatan jelek yang paling besar, wal ‘iyyadzu billah (dan kita berlindung kepasa Alloh dari perbuatan tersebut.

Karena sesungguhnya melaknat/mencela suatu penyakit, yang mana ini merupakan taqdir/ketentuan dari Alloh ta’ala, maka ini sama saja dengan mencela Alloh subhanahu wa ta’ala._

Bacaan Lainnya

Maka terhadap orang yang mengucapkan perkataan seperti itu (yakni yang mencela penyakit), agar dia bertobat kepada Alloh, dan kembali kepada agamanya.

Dan (hendaknya) dia mengetahui, bahwa penyakit itu (terjadinya adalah) dengan takdir Alloh.

Dan juga (hendaknya dia mengetahui) bahwa apa saja yang menimpanya berupa suatu musibah, maka sesungguhnya (asalnya itu adalah) karena akibat perbuatannya sendiri. Alloh tidak berbuat dholim kepada hamba-Nya, tetapi hamba-Nya itu sendiri yangg berbuat dholim terhadap dirinya sendiri.
(Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/126)

Keterangan :
1. Ya, melaknat/mencela suatu penyakit atau musibah apa saja yg menimpa, adalah sama saja dgn mencela takdir/ketentuan dari Alloh ta’ala.

Dan hal itu juga berarti mencela Alloh ta’ala, karena Dia-lah yang menentukan takdir tersebut
Dan ini termasuk perbuatan dosa yang sangat besar.

_2. Diantara bentuk -bentuk  perbuatan yg menunjukkan celaan terhadap takdir Alloh adalah sebagai berikut :
Seseorang itu beriman terhadap takdir yang baik, sedangkan terhadap takdir yang buruk, dia mengingkarinya.

Seseorang itu senang dengan takdir yang manis (indah dan menyenangkan), tetapi dia menggerutu (marah dan tidak suka) terhadap takdir yang pahit yang menimpanya.

3.Dalam sebuah hadits yg shohih, dari Jabir bin Abdillah rodhiyallohu anhuma dia berkata, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Seorang hamba itu tidak dikatakan beriman sampai dia beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.

Dan, hingga dia mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan menimpanya, maka tidak akan pernah meleset. Dan apa yang tidak ditakdirkan menimpanya, maka tidak pernah akan menimpanya.”
(Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dlm Shohih Sunan At-Tirmidzi (2/227) no.1743)

Dan sekiranya Dia memberi rahmat kepada mereka, niscaya rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amal mereka itu sendiri.

Jika engkau memiliki emas sebesar bukit Uhud yang engkau infakkan di jalan Allah, niscaya amalanmu itu tidak akan diterima, sampai engkau mengimani takdir secara keseluruhan, dan engkau mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu, maka tidak pernah akan meleset. Dan apa yang tidak ditakdirkan manimpamu, maka tidak akan menimpamu.

Jika engkau mati tidak dalam keadaan seperti itu (yakni beriman kepada takdir Alloh secara keseluruhannya,  pasti engkau akan masuk neraka.”
(Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Shohih Sunan Abi Dawud (2/890) no.3699 dan Shohih Sunan Ibnu Majah (I/19) no. 62]

4. Karena itu pula, jangan mencela takdir-Nya, bila yang terjadi pada kita adalah takdir yang tidak mengenakkan kita.

Alloh ta’ala jg berfirman:
“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya.
(QS. An-Nisa ‘: 19).

Wassalamualaikum wr wb

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *