Temporatur.com
Assalamualaikum wr.wb. Selamat pagi. Fastabiqul Khairat adalah contoh individu yang terpilih.
Dalam surah Al-Fatir ayat 32, Allah menggambarkan manusia terbagi menjadi tiga jenis. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (QS. Fatir 35: Ayat 32)
Jenis pertama adalah mereka yang dzalim. Mereka lebih banyak berbuat keburukan daripada kebaikan. Mereka menghabiskan hidup mereka dalam perkara-perkara yang tidak diridai oleh Allah.
Jenis kedua adalah mereka yang pertengahan. Artinya, pada suatu waktu mereka melakukan keburukan, tetapi pada waktu yang lain mereka melakukan kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang ibadahnya bersifat bergantung, begitu pun dengan keburukan mereka.
Dan jenis ketiga adalah mereka yang selalu membangun budaya fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Inilah karakteristik dari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena budaya fastabiqul khairat ini, para sahabat Nabi layak disebut sebagai “khairu ummah” atau generasi terbaik. Mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Mereka tidak rela melepaskan kesempatan untuk memanfaatkan setiap napas dalam ketaatan kepada Allah. Mereka selalu memaksimalkan setiap pintu kebaikan yang Allah buka.
Melihat contoh di atas, apakah kita menjadi manusia jenis ketiga? Jawabannya tentu kembali kepada diri kita masing-masing. Saatnya kita merenung, betapa berbedanya semangat beribadah para sahabat dengan kebanyakan dari kita sekarang. Seringkali kita kekurangan semangat untuk berfastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita merasa cukup dan puas berada di luar arena, menjadi penonton, atau bahkan komentator dan kritikus terhadap perlombaan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain.
Ketika orang lain mengenakan hijab dengan sempurna, kita sering mengomentari mereka dengan kata-kata seperti “terlalu ekstrim” atau “kampungan”. Atau ketika orang lain bersedekah, kita berpikir mereka mungkin mencari pujian atau ingin terlihat dermawan. Ketika saudara kita memilih untuk menjaga perkataannya dan mengamalkan sebuah hadis, kita langsung menyimpulkan bahwa mereka sombong dan pelit perkataan. Dan ketika seseorang memanjangkan sujudnya, kita melihatnya sebagai cara untuk mencari pujian saja.
Terkadang kita hanya berperan sebagai penonton, komentator, dan kritikus tanpa terlibat dalam perlombaan meraih keridhaan Allah. Peran seperti itu sangat melelahkan dan membuang waktu.
Adalah sebuah musibah jika kita kehilangan kesempatan untuk beribadah kepada Allah dan kita hanya tenang-tenang saja. Tidakkah kita ingin meraih surga? Oleh karena itu, jangan hanya menjadi penonton. Mari kita bangun budaya fastabiqul khairat yang telah lama terlupakan
Wallahu’ alam bisshowab.
Wassalamualaikum wr.wb.















