Bekasi – Jabar || Temporatur.com
Kabupaten Bekasi salah satu wilayah pusat Industri terbesar di Indonesia, namun persoalan pengangguran di Kabupatan Bekasi menjadi sorotan publik masyarakat Bekasi.
Aksi demonstrasi dilakukan mahasiswa dan kaum pengangguran didepan perkantoran pemkab Bekasi pada 20 Juli 2023.
Dalam aksi demo tersebut beberapa element masyarakat dan mahasiswa menuntut dan meminta Pemkab Bekssi memperbanyak Balai Latihan Kerja (BLK ) agar para penganggur dapat mengikuti pelatihan kerja dan memperoleh pekerjaan sesuai dengan skil dan keterampilannya.
Hampir 7000 perusahan berdiri di Kabupaten Bekasi, namun pekerja lokal asal pribumi (warga Bekasi) hampir dan jarang terakomodir karena kalah bersaing dengan para pencari kerja dari luar Kabupaten Bekasi.
Ketua Ikatan Praktisi HRD (IPHRD) Kabupaten Bekasi, RR Meilani Aseaningrum mendukung program Pemkab Bekasi memprioritaskan tenaga kerja lokal. Namun, dengan syarat para calon tenaga kerja lokal memliki skill yang dibutuhkan perusahaan.

“Sejak awal kami dukung kebijakan Pj Bupati Bekasi Dani Ramdan terhadap keseriusan beliau untuk mempersiapkan tenaga kerja lokal Bekasi, namun kami juga punya aturan siapapun calon pelamar harus mempunyai kemampuan skill yang sesuai kebutuhan perusahaan,” ujar Meilani pada Jumat (21/07/23).
Bahkan, IPHRD juga turut menginisiasi membantu mewujudkan program TKP3D Kabupaten Bekasi. Bahkan jauh sebelum pembentukan TKP3D, pihaknya bersama beberapa HR Manager sudah mengajar secara sukarela sebagai guru tamu industri kepada siswa SMA maupun SMK yang ada di Kabupaten Bekasi.
Pelajaran yang diberikan yaitu soft skill seperti basic safety, attitude hingga membuat CV yang benar. Selain itu juga memberikan tips wawancara kepada para siswa yang akan berminat bekerja di perusahaan industri di Kabupaten Bekasi.
“Tidak hanya kepada siswa saja, tetapi kepada para gurunya juga kami memberikan edukasi yang sama dengan siswa, agar guru juga bisa selalu mengingatkan materi yang kami sampaikan,” katanya.
IPHRD Kabupaten Bekasi berharap dengan adanya program tersebut dapat mengurangi angka penangguran. Dengan program yang telah dilakukan juga diharapkan mampu menciptakan calon karyawan yang sudah terlatih soft skillnya dan mempunyai pemahaman yang baik mengenai dunia industri.
Tak hanya itu, Meilani juga mengungkapkan, jumlah lulusan SMK untuk memenuhi kuota kebutuhan industri. Sehingga pihaknya bekerja sama dengan pihak BLK dan SMK bisa memenuhi kuota penerimaan calon tenaga kerja.
“Jadi kurikulum pendidikan SMA atau SMK juga harusnya bisa disesuaikan untuk menyongsong kesiapan siswanya dalam dunia tenaga kerja sesuai kebutuhan perusahaan industri saat ini,” tandasnya. (**)
Sumber : Diskominfosantik Kab.Bekasi















