Daerah

Jurnalis, Rasa Aman, dan Tanggung Jawab Sejarah

Jakarta – Temporatur.com Tidak semua orang memahami bagaimana rasanya menjadi jurnalis. SelanjutnyaKritik Dana Desa Dibungkam Bogem Mentah: Oknum Kades di Lahat Dipolisikan, Garda Prabowo Pasang Badan!Publik hanya melihat berita yang tayang. Judul yang tajam. Kritik yang keras. Investigasi yang berani. Namun jarang yang menyadari proses di baliknya—tekanan, risiko, bahkan ancaman yang kadang menyertai setiap kata yang dipublikasikan. Menjadi jurnalis bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah pilihan sikap. Pilihan untuk berdiri di antara fakta dan kekuasaan. Pilihan untuk menulis meski tahu tulisan itu bisa menimbulkan ketidaknyamanan. SelanjutnyaPandangan Politisi Golkar Dr. H. Mohammad Amin Fauzi,S.H., M. Si Terhadap Dinamika di Kabupaten BekasiSecara konstitusional, peran ini bukan peran sembarangan. Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 menjamin kebebasan menyampaikan pendapat. Pasal 28F UUD 1945 menegaskan hak setiap orang untuk memperoleh dan menyampaikan informasi. Artinya, kerja jurnalistik bukan sekadar aktivitas profesi—ia adalah bagian dari hak konstitusional warga negara. Lebih tegas lagi, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 […]

Berita, Opini

Dibalik Layar Demokrasi: Jeritan Jurnalis Independen yang Tak Terdengar

Katanya, jurnalisme adalah pilar demokrasi. Tapi, coba tengok nasib para jurnalis independen yang berjuang sendirian. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, atau mungkin lebih tepatnya, badut di panggung kekuasaan yang sesekali diizinkan tampil. Terikat Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, mereka diharapkan menjadi anjing penjaga kebenaran. Tapi, di tengah hutan belantara informasi dan kepentingan, siapa yang menjaga anjing penjaga itu sendiri?

Opini

Dua Dunia, Satu Jiwa: Kisah Irpan, Jurnalis yang Juga Pekerja Sawit

Dalam lanskap profesi modern yang semakin terspesialisasi, sebagian besar dari kita memilih satu jalur karier dan mengukir identitas di sana. Namun, ada pula individu-individu langka yang berani merangkul dua dunia yang kontras, bahkan ekstrem. Salah satunya adalah Irpan, yang menyeimbangkan pena dan kamera seorang jurnalis dengan egrek dan dodos seorang pekerja sawit. Ini bukan sekadar tentang mencari nafkah ganda, melainkan tentang sebuah perjalanan unik yang membentuk perspektif hidup yang lebih kaya dan mendalam.