Walking Tour Kampung Wisata Tahu Cibuntu Hadirkan Pengalaman Belajar Budaya
- account_circle Suryo Sudharmo
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TEMPORATUR.COM
Rangkaian Popolah dalam Pekan Kebudayaan 2026 mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat proses produksi tahu melalui kegiatan walking tour di Kampung Wisata Tahu Cibuntu, Kota Bandung, Minggu 8 November 2026.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk menelusuri kampung, mengunjungi tempat produksi, berinteraksi langsung dengan para pengrajin tahu, hingga mencicipi berbagai olahan tahu khas Cibuntu.
Pada kegiatan ini, peserta tidak hanya diajak melihat proses pembuatan tahu, tetapi juga memahami bagaimana industri tahu telah menjadi bagian dari sejarah, identitas, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Cibuntu.
Mulai dari proses penggilingan kedelai, pengolahan, pencetakan, hingga pengemasan, seluruh rangkaian produksi diperkenalkan secara langsung kepada peserta.
Tokoh masyarakat Cibuntu, Deden Benjo menjelaskan, keberadaan industri tahu di wilayah tersebut sudah berlangsung sejak 1948. Sedangkan Kampung Wisata Tahu Cibuntu mulai dirintis sejak beberapa tahun sebelumnya dan resmi diperkenalkan pada Oktober 2021.
Menurutnya, kehadiran Kampung Wisata Tahu bukan sekadar untuk memperkenalkan produk lokal, tetapi juga mengubah pandangan masyarakat terhadap proses produksi tahu.
Ia menyebut, masih terdapat anggapan bahwa proses pembuatan tahu kurang higienis. Melalui kunjungan langsung, masyarakat dapat melihat proses pengolahannya sekaligus mengetahui kandungan gizi yang dimiliki tahu.
Selain sejarahnya, Deden juga menjelaskan bahwa keberadaan tahu memiliki hubungan erat dengan kondisi geografis Cibuntu. Nama Cibuntu sendiri berasal dari istilah Sunda, yaitu cai buntu, yang merujuk pada wilayah tempat aliran air berakhir.
Ketersediaan sumber air yang melimpah dan berkualitas menjadi salah satu faktor pendukung berkembangnya industri tahu di kawasan tersebut.
Tahu menjadi ciri khas Cibuntu karena dalam proses produksinya hampir seluruhnya menggunakan air, mulai dari perendaman sampai pengemasan. Jadi, keberadaan sumber air di sini menjadi salah satu hal yang mendukung Cibuntu sebagai kawasan pengrajin tahu, jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, salah satu pengrajin tahu, Rona memperlihatkan secara langsung aktivitas produksi yang berlangsung setiap hari. Ia menjelaskan, tempat produksinya mampu menghasilkan sekitar dua ton tahu per hari dengan sistem kerja dua shift.
Setiap hari produksinya sekitar dua ton dan dilakukan tanpa henti. Biasanya dimulai dari pukul lima pagi sampai pukul lima pagi lagi pada hari berikutnya. Prosesnya mulai dari penggilingan hingga pencetakan dilakukan setiap hari,” ujar Rona.
Ngamumule Budaya, Ngawangun Kota
Kegiatan walking tour ini merupakan bagian dari rangkaian Pekan Kebudayaan 2026 yang mengusung tema besar “Ngamumule Budaya, Ngawangun Kota”. Kurator Kebudayaan 2026, Gabriel menyampaikan, kebudayaan memiliki peran penting dalam pembangunan kota dan tidak hanya terbatas pada seni, tradisi, maupun peninggalan masa lalu.
Pembangunan kota itu tidak hanya soal infrastruktur. Kebudayaan seperti yang ada di Kampung Cibuntu ini juga merupakan bagian dari pembangunan kota yang perlu kita jaga dan kembangkan, tutur Gabriel.
Ia juga menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pelaksanaan Pekan Kebudayaan tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2026, rangkaian kegiatan diawali dengan proses Popolah yang melibatkan empat komunitas.
Hasil dari kegiatan tersebut kemudian akan ditampilkan dalam rangkaian acara utama Pekan Kebudayaan yang disebut sebagai Botram Budaya.
Menurut Gabriel, kegiatan Popolah di Kampung Cibuntu turut melibatkan antusiasme masyarakat yang cukup tinggi. Tercatat lebih dari 500 warga turut hadir, sementara peserta dari luar kawasan yang mengikuti kegiatan melalui pendaftaran berjumlah sekitar 50 orang.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang pengetahuan baru bagi masyarakat Kota Bandung. Praktik keseharian masyarakat, termasuk aktivitas produksi tahu di Cibuntu, merupakan bagian dari kebudayaan yang perlu diapresiasi, dipelihara, dan dikembangkan.
Antusiasme juga dirasakan oleh peserta kegiatan, Citra dan Ama. Keduanya mengaku mengetahui kegiatan ini melalui Instagram dan tertarik mengikuti walking tour karena memiliki ketertarikan terhadap kegiatan wisata berbasis pengalaman.
Melalui kegiatan ini, Kampung Wisata Tahu Cibuntu tidak hanya diperkenalkan sebagai kawasan produksi pangan lokal, tetapi juga sebagai ruang kebudayaan yang menyimpan sejarah, pengetahuan, keterampilan, serta kehidupan sosial masyarakat.
Walking tour dalam rangkaian Popolah menjadi pengingat bahwa kebudayaan dapat ditemukan dari aktivitas sederhana yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
(anazda,azalya,lely/magang)
Sumber : Diskominfo Kota Bandung
( Andi )
- Penulis: Suryo Sudharmo
- Editor: Tempratur.com




Saat ini belum ada komentar