Harga Elpiji Nonsubsidi Naik, Dedi Mulyadi Dorong Pemanfaatan Biogas dan Kearifan Lokal
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, merespons kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi dengan mendorong masyarakat mengoptimalkan kearifan lokal sebagai energi alternatif.
Salah satu solusi konkret yang ditawarkan adalah diversifikasi energi melalui pemanfaatan biogas dari kotoran hewan.
Menurut Gubernur yang akrab disapa KDM ini, pengolahan limbah ternak seperti kotoran sapi menjadi biogas terbukti efektif sebagai pengganti elpiji.
Pola ini bahkan sudah diterapkan oleh sejumlah peternak di Kabupaten Bandung Barat untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
“Kotoran sapi bisa dikelola menjadi energi gas, sampah juga bisa, bahkan jadi listrik pun bisa,” ujar KDM saat ditemui di Kota Bandung, Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan bahwa api yang dihasilkan dari kompor biogas memiliki tekanan yang besar dan layak digunakan untuk keperluan domestik.
Selain biogas, KDM menyarankan masyarakat di wilayah pedesaan untuk kembali memanfaatkan kayu bakar.
Sementara bagi warga di kawasan perkotaan, penggunaan kompor listrik dinilai bisa menjadi pilihan yang lebih efisien.
“Kita harus menyesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan masing-masing.
Saya meyakini warga Indonesia, khususnya Jawa Barat, adalah masyarakat yang inovatif dan cerdas dalam menyiasati keadaan,” tuturnya optimis.
Langkah pencarian energi alternatif ini menyusul kebijakan penyesuaian harga elpiji nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 18 April 2026.
Di wilayah Jawa Barat, harga elpiji tabung 12 kilogram kini mencapai Rp228.000, sedangkan tabung 5,5 kilogram naik menjadi Rp107.000.
Meski demikian, pemerintah memastikan tidak ada kenaikan harga untuk elpiji subsidi tabung 3 kilogram (gas melon) agar beban masyarakat menengah ke bawah tetap terjaga.
(Red)















