Jaga Identitas di Tengah Arus Modernisasi, Plt Bupati Bekasi Siapkan Anggaran Rutin untuk Lebaran Bekasi
Plt Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal. Hal ini disampaikannya saat menghadiri penyelenggaraan Lebaran Bekasi ke-8 yang digelar di Saung Jajaka, Kampung Gabus, Desa Srijaya, Kecamatan Tambun Utara, Sabtu (04/04/2026).
Dalam sambutannya, dr. Asep menekankan bahwa meski Kabupaten Bekasi telah bertransformasi menjadi daerah multikultural yang dihuni penduduk dari berbagai latar belakang, identitas budaya asli Bekasi tidak boleh luntur.
“Bekasi ini multikultur, ada sekitar 48 negara dengan jumlah penduduk 3,4 juta jiwa. Tapi budaya kita tidak boleh hilang. Lebaran Bekasi ini adalah kultur yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujar dr. Asep.
Ia menyoroti tradisi seperti “nyorok” atau tradisi bersilaturahmi kepada orang tua sebagai nilai luhur yang harus diwariskan kepada generasi mendatang agar tidak tergerus zaman. Sebagai bentuk nyata dukungan, Pemerintah Kabupaten Bekasi berencana menetapkan anggaran rutin untuk kegiatan ini.
“Ke depan akan kita anggarkan secara rutin, karena ini bagian dari kebudayaan yang harus kita pertahankan agar tidak hilang,” tegasnya.
Selain fokus pada budaya, dr. Asep juga memaparkan langkah strategis pembenahan daerah, mulai dari sistem perizinan hingga transparansi keuangan. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berkolaborasi.
“Saya bukan superman, tapi kita harus menjadi super team. Semua unsur harus terlibat dalam membangun Bekasi,” tambahnya.
Di lokasi yang sama, Ketua Panitia Lebaran Bekasi sekaligus Ketua Umum Jajaka Nusantara, Damin Sada, mengungkapkan bahwa kegiatan ini lahir dari rasa prihatin atas mulai pudarnya adat istiadat lokal.
“Ini berawal dari keprihatinan agar adat dan budaya Bekasi tidak hilang. Lebaran Bekasi menjadi ajang silaturahmi yang tidak tergantikan oleh teknologi,” ungkap Damin.
Damin menyambut baik rencana Pemkab Bekasi untuk memberikan dukungan anggaran rutin. Menurutnya, kepastian dukungan pemerintah sangat krusial bagi keberlangsungan pelestarian budaya di tanah Bekasi.
“Kalau budaya sampai hilang, lalu apa identitas kita sebagai orang Bekasi? Kita harus bersatu, jangan sampai terpecah. Dengan silaturahmi seperti ini, hubungan antara masyarakat dan pemimpin bisa semakin erat,” pungkasnya.
(Red)















