Tapanuli Utara – Temporatur.com |Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan segera melakukan perbaikan sejumlah sungai yang terdampak bencana di Kabupaten Tapanuli Utara pada masa transisi pascabencana.
Lima sungai yang menjadi prioritas penanganan yakni Aek Sigeaon, Aek Haidupan, Sungai Batang Toru, Aek Siandurian, dan Aek Sarulla.
Hal tersebut disampaikan Bupati Tapanuli Utara, Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si., M.Si. (JTP), usai diskusi bersama jajaran Kementerian PUPR di Kantor Bupati Tapanuli Utara, Selasa (6/1/2026).
Menurut Bupati, selain perbaikan sungai, program ini juga akan disinergikan dengan penanganan sarana air minum di wilayah Pahae dan Kecamatan Adiankoting.
“Tahap transisi pascabencana ini, fokus utama adalah sungai-sungai yang menjadi sumber dan yang terdampak langsung. Ini akan menjadi prioritas penanganan,” ujar Bupati.
Diskusi tersebut turut dihadiri Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera Utara, Feryanto, perwakilan Inspektorat Kementerian PUPR, serta tim dari kementerian PUPR dan Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera Utara.
Pertemuan ini bertujuan menyamakan persepsi dan data sebagai dasar pengambilan langkah strategis ke depan.
“Dari data yang kami sampaikan, sungai-sungai inilah yang paling awal mendapatkan penanganan pada tahap awal,” jelas Bupati.
Bupati juga mengungkapkan bahwa pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp200 miliar khusus untuk perbaikan sungai di Tapanuli Utara. Ia menegaskan kehadiran pemerintah harus benar-benar dirasakan masyarakat yang terdampak bencana.
“Besok para rekanan akan turun langsung meninjau lokasi di lapangan. Pemerintah harus hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Balai Herianto menjelaskan bahwa berdasarkan hasil identifikasi awal Kementerian PUPR sebelumnya hanya terdapat tiga sungai yang masuk dalam data penanganan.
Namun setelah adanya masukan dari Bupati Tapanuli Utara, jumlah sungai yang diprioritaskan bertambah menjadi lima.
“Awalnya data kami hanya tiga sungai, namun Pak Bupati menambahkan beberapa sungai lain yang terdampak dan itu kami masukkan sebagai prioritas,” jelas Herianto.
Ia juga menyampaikan bahwa saat ini proses masih berada pada tahap tanggap darurat, yang diperkirakan berlangsung selama tiga hingga enam bulan. Selanjutnya akan dilanjutkan dengan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi yang dapat memakan waktu hingga satu sampai dua tahun.
“Penanganan sungai tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat karena panjang alur sungai dan perlu kajian wilayah mana yang paling membutuhkan penanganan,” tambahnya.
Herianto menegaskan pihaknya mendapat instruksi langsung dari Kementerian PUPR untuk segera hadir di daerah dan menindaklanjuti setiap kebutuhan yang mendesak, serta akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara.
Bupati berharap proses perbaikan dapat berjalan lancar dan bencana serupa tidak kembali terjadi. “Kita doakan bencana tidak terulang, dan penanganan sungai-sungai terdampak dapat segera kita atasi,” pungkasnya.(Norris Pea)















