Konflik Bertahun Tahun Berakhir Damai Pengelola Makam Sunan Giri Jadi Satu

Konflik Bertahun Tahun Berakhir Damai Pengelola Makam Sunan Giri Jadi Satu

Gresik – Pengelolah situs Makan Sunan Giri di Kabupaten Gresik sudah sekian lama terjadi konflik hingga bertahun-tahun. dan Pada akhirnya sekarang ini kedua kubu kini berakhir dengan berdamai.

Mediasi diantara dari pihak kubu ini diantaranya, Yayasan Makam Giri dan Perkumpulan Keluarga Besar Keturunan Kanjeng Sunan Giri serta Ahli Waris Juru Kunci Makam Sunan Giri (Kaum Giri) mereka melakukan mediasi yang cukup alot. Namun pada akhirnya semuanya sepakat menyudahi perselisihan itu sepakat dengan damai.

Setelah adanya kesepakatan damai, kemudian dilakukan perjanjian yang disaksikan oleh Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompincam) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) berserta parah tokoh desa setempat diruang Kantor Yayasan Makam Sunan Giri selasa (19/8/2025).

Sebelumnya, dari masing-masing pengelola memasang stiker, spanduk, dan kotak amal, di sekitaran lokasi makam Sunan Giri Gresik imbas dari konflik para pengelola.

Antara kubu yang sebelunya berkonflik kini sepakat untuk melepas atribut yang terpasang dilokasi makam, pengelola situs makam sunan giri akan menjadikan satu kepengurusan yang baru.

Kaum Giri yang terdiri dari empat belas anggota pengurus kini disetujui untuk menempatkan di Yayasan Makam Sunan Giri diantara perwakilan empat orang dalam satu kepengurusan yang baru.

Bacaan Lainnya

Perjanjian damai ini akan segera dibuatkan akta notaris untuk satu kepengurusan yang baru. Hal ini untuk memastikan legalitas dan transparansi, serta mengantisipasi terjadinya konflik seperti sebelumnya.

“Setelah semua ini sleseai maka akan dibuatkan akta notaris kepengurusan yang baru,” jelas Tri.

Perselisihan itu muncul pada pertengahan 2012 lalu. Saat itu ketua Yayasan Makam Giri yang dibentuk tahun 1998 diduga mengambil alih kunci cungkup makam setelah sesepuh juru kunci meninggal dunia. Kemudian dari pihak Kaum Giri, yang terdiri dari 14 anggota, menuntut perubahan. Mereka ingin mengembalikan pada kondisi semula yang sesuai adab dan tradisi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *