Bekasi – Jabar || Temporatur.com
Situasi kekeringan dan kekurangan pasokan air bersih di daerah Bekasi semakin menjadi perhatian. Terutama bagi warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai Cilemahabang mereka terpaksa menggunakan air sungai tersebut untuk kebutuhan mencuci dan mandi. Namun, keadaan yang semakin memburuk ini menjadi sorotan negatif terhadap penanganan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi,belum ada langkah konkret yang diambil untuk mengatasi masalah ini.
Terpantau oleh Tim Redaksi Temporatur.com pada Senin 14 Agustus 2023, air kali Cilemahabang yang kembali berwarna hitam mencerminkan kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan. Bukan hanya sebagai sumber air bersih, sungai Cilemahabang seharusnya juga menjadi sarana rekreasi dan penunjang kehidupan masyarakat sekitar. Namun, sekarang ini sungai tersebut hanya dapat memberikan kesedihan dan menyulitkan kehidupan warga.
Sungai Cilemahabang mengalirkan melaui anak sungai atau kali kecil yang melintasi beberapa desa.Diantaranya Desa Waluya, Desa Karangasih, Desa Sukaraya sampai, Desa Karangrahayu, dan Desa Karangsetia .
Penanganan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi terlihat belum efektif. Upaya untuk menjaga kualitas air kali Cilemahabang masih minim dan belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Warga yang menggantungkan harapan pada pemerintah setempat merasa kecewa dan mengalami ketidaknyamanan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam menghadapi situasi ini, pemerintah seharusnya mengambil langkah-langkah yang lebih proaktif dan inovatif. Meningkatkan kerjasama antara pemangku kepentingan terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pekerjaan Umum, adalah langkah awal yang perlu dilakukan. Dalam kerjasama ini, pemangku kepentingan dapat saling berkoordinasi untuk mengatasi masalah kekeringan dan pencemaran air di kali Cilemahabang.
Selain itu, kegiatan pengawasan dan monitoring terhadap kualitas air juga harus ditingkatkan. Pengambilan sampel air secara rutin dan pemeriksaan laboratorium yang teliti dapat memberikan gambaran yang akurat tentang kualitas air sungai Cilemahabang. Jika ditemukan adanya pencemaran, langkah-langkah korporatif harus segera diambil untuk membersihkan sungai dan mencegah pencemaran lanjutan.
Pemerintah juga perlu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan. Melalui kampanye dan penyuluhan yang kreatif, masyarakat di sekitar sungai Cilemahabang dapat memahami dampak buruk yang ditimbulkan oleh pemakaian air sungai yang tercemar. Dengan memiliki pemahaman yang lebih baik, diharapkan masyarakat akan lebih peduli dan berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan sungai Cilemahabang.
Tidak hanya itu, pemerintah juga harus lebih aktif dalam mencari sumber air alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti air kali Cilemahabang. Pemanfaatan teknologi canggih seperti pengolahan air limbah dan penggunaan air hujan dapat menjadi solusi yang efektif dalam mengatasi kekurangan pasokan air bersih bagi masyarakat Bekasi.
Sebagai kesimpulan, penanganan masalah kekeringan dan pencemaran air sungai Cilemahabang merupakan tugas yang harus dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Bekasi dengan tekad yang kuat dan sikap yang proaktif. Dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan melaksanakan langkah-langkah strategis yang disebutkan di atas, diharapkan permasalahan ini dapat segera teratasi dan kualitas hidup masyarakat dapat meningkat. (SS)
Opini catatan Redaksi Temporatur.com
Suryo Sudharmo















