Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Bekasi Dua Wajah: Raksasa Industri di Selatan, Lumbung Pangan di Utara

Bekasi Dua Wajah: Raksasa Industri di Selatan, Lumbung Pangan di Utara

  • account_circle Heru Budiman
  • calendar_month 20 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bekasi Dua Wajah: Raksasa Industri di Selatan, Lumbung Pangan di Utara

BEKASI — TEMPORATUR.COM

Kabupaten Bekasi memiliki dua wajah pembangunan yang saling berkaitan. Di wilayah selatan, kawasan industri tumbuh menjadi magnet investasi berskala nasional dan global. Sementara di wilayah utara, hamparan sawah, tambak, serta kawasan mangrove menjadi penopang ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat pesisir.

Keterangan foto : Keterangan foto : ilustrasi, Bekasi Dua Wajah: Raksasa Industri di Selatan, Lumbung Pangan di UtaraBEKASI — TEMPORATUR.COM Kabupaten Bekasi memiliki dua wajah pembangunan yang saling berkaitan. Di wilayah selatan, kawasan industri tumbuh menjadi magnet investasi berskala nasional dan global. Sementara di wilayah utara, hamparan sawah, tambak, serta kawasan mangrove menjadi penopang ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat pesisir. Gambaran tersebut disampaikan Heru Budiman, mantan jurnalis Koran Harian Karawang Bekasi Ekspres (KBE) dari Jawa Pos Group, melalui catatan reflektifnya tentang perjalanan pembangunan Kabupaten Bekasi sejak 2006. Berbekal pengalaman meliput hingga pelosok desa, Heru melihat perkembangan pesat kawasan industri di Cikarang, Tambun, dan Deltamas. Namun, menurutnya, kemajuan ekonomi tersebut perlu diimbangi pemerataan manfaat pembangunan bagi masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Bekasi. Investasi Besar, Pemerataan Jadi Tantangan Kawasan industri seperti Jababeka, MM2100, EJIP, Delta Silicon, dan GIIC telah menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi Kabupaten Bekasi. Dalam tulisannya, Heru menyebut nilai investasi Kabupaten Bekasi pada 2025 mencapai Rp81,84 triliun berdasarkan data yang diatribusikannya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Angka tersebut menggambarkan besarnya potensi ekonomi daerah yang perlu diikuti peningkatan kesejahteraan masyarakat. Meski demikian, ia mengajukan sejumlah pertanyaan mendasar: sejauh mana tenaga kerja lokal memperoleh kesempatan bekerja di kawasan industri? Seberapa besar keberadaan pabrik memberikan dampak terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta perekonomian masyarakat desa? Menurut Heru, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui nilai investasi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat setempat merasakan manfaatnya secara langsung. Wilayah Utara dan Potensi yang Perlu Dijaga Berbeda dengan kawasan selatan yang didominasi aktivitas industri, wilayah utara Kabupaten Bekasi memiliki karakter agraris dan pesisir. Kecamatan Sukatani, Sukakarya, Cabangbungin, Babelan, Tarumajaya, hingga Muaragembong menyimpan potensi pertanian, perikanan, tambak, dan ekosistem mangrove. Namun, wilayah tersebut juga menghadapi persoalan infrastruktur, irigasi, banjir rob, abrasi, serta tantangan penghidupan petani dan nelayan. Heru menilai, Muaragembong tidak semestinya hanya dipandang sebagai wilayah pinggiran. Kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan dan lingkungan pesisir Kabupaten Bekasi. Selain pertanian dan perikanan, potensi minyak dan gas bumi di sejumlah wilayah juga menjadi bagian dari sumber daya alam yang perlu dikelola secara transparan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Cikarang Pusat sebagai Penghubung Pembangunan Di antara kawasan industri selatan dan wilayah pertanian-pesisir utara, Cikarang Pusat berkembang sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas perkotaan. Kehadiran perkantoran pemerintahan, pusat perdagangan, fasilitas pendidikan, serta layanan kesehatan menunjukkan perubahan kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Heru memandang Cikarang Pusat memiliki posisi strategis untuk menghubungkan arah pembangunan kedua wilayah. Ia mengingatkan bahwa pembangunan perkotaan tidak seharusnya hanya berorientasi pada pusat perbelanjaan dan kawasan komersial, tetapi juga perlu memperhatikan transportasi, ruang publik, akses pelayanan dasar, dan keterhubungan antarwilayah. Enam Potensi yang Perlu Dikembangkan Dalam refleksinya, Heru merangkum enam potensi Kabupaten Bekasi yang menurutnya perlu dikembangkan secara terpadu. Pertama, kawasan industri dan investasi, dengan memperluas kesempatan kerja bagi warga lokal serta mendorong pertumbuhan usaha masyarakat. Kedua, lumbung pangan dan pesisir utara, melalui perlindungan lahan pertanian, perbaikan irigasi, penguatan perikanan, dan pelestarian mangrove. Ketiga, energi dan sumber daya alam, dengan mengedepankan tata kelola yang transparan serta manfaat yang terukur bagi daerah dan masyarakat. Keempat, pengembangan kawasan perkotaan, terutama melalui peningkatan transportasi, fasilitas umum, dan ruang publik yang dapat diakses masyarakat. Kelima, optimalisasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Heru menilai program CSR yang didorong pada era Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, perlu diarahkan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat desa. Menurutnya, program tersebut dapat difokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan, pengembangan UMKM, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Pelaksanaannya juga perlu memiliki target dan indikator manfaat yang jelas. Keenam, pengembangan wisata berbasis masyarakat, seperti Jembatan Cinta Tarumajaya, Alun-alun Setu, dan Karang Kitri Bojongmangu. Pengembangan destinasi wisata diharapkan membuka peluang usaha bagi warga, bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan. Anggaran Daerah dan Ukuran Kesejahteraan Heru juga menyoroti besarnya jumlah penduduk dan kapasitas fiskal Kabupaten Bekasi sebagai modal pembangunan sekaligus tanggung jawab pemerintah daerah. Dalam tulisannya, ia mencantumkan data SIDANTA Semester I 2026 yang mencatat jumlah penduduk Kabupaten Bekasi sebanyak 3.508.296 jiwa. Ia juga menyebut APBD 2025 sekitar Rp7,6 triliun, dengan pendapatan asli daerah (PAD) sekitar Rp4,1 triliun. Angka-angka tersebut, menurut Heru, perlu diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas pelayanan publik yang dapat dirasakan masyarakat hingga tingkat desa. Ia mencontohkan kebutuhan perbaikan jalan rusak di Sukatani, pembenahan ruang kelas di Muaragembong, hingga peningkatan pelayanan kesehatan di Babelan. Baginya, pembangunan daerah tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh ketepatan alokasi belanja, kualitas pelaksanaan program, dan pemerataan hasilnya. Satu Kabupaten, Satu Arah Pembangunan Menutup refleksinya, Heru menekankan pentingnya menyatukan arah pembangunan Kabupaten Bekasi agar pertumbuhan industri di selatan tidak berjalan sendiri, sementara potensi pertanian dan pesisir di utara tertinggal. Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan semboyan Kabupaten Bekasi, Swatantra Wibawa Mukti, yang menjadi pengingat tentang kemandirian, kewibawaan, dan kemakmuran daerah. Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan harus mampu menghubungkan kekuatan industri, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. “Dari industri untuk peradaban. Dari utara hingga selatan, pembangunan harus menghadirkan kesempatan yang sama,” demikian gagasan utama yang disampaikan Heru dalam catatannya. Ia berharap Kabupaten Bekasi dapat bergerak menuju pembangunan yang lebih terpadu, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka investasi, tetapi juga dirasakan masyarakat di seluruh wilayah. (ft.ilustrasi)

Keterangan foto : Keterangan foto : ilustrasi, Bekasi Dua Wajah: Raksasa Industri di Selatan, Lumbung Pangan di Utara.

Gambaran tersebut disampaikan Heru Budiman, mantan jurnalis Koran Harian Karawang Bekasi Ekspres (KBE) dari Jawa Pos Group, melalui catatan reflektifnya tentang perjalanan pembangunan Kabupaten Bekasi sejak 2006.

Berbekal pengalaman meliput hingga pelosok desa, Heru melihat perkembangan pesat kawasan industri di Cikarang, Tambun, dan Deltamas. Namun, menurutnya, kemajuan ekonomi tersebut perlu diimbangi pemerataan manfaat pembangunan bagi masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Bekasi.

Investasi Besar, Pemerataan Jadi Tantangan

Kawasan industri seperti Jababeka, MM2100, EJIP, Delta Silicon, dan GIIC telah menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi Kabupaten Bekasi.

Dalam tulisannya, Heru menyebut nilai investasi Kabupaten Bekasi pada 2025 mencapai Rp81,84 triliun berdasarkan data yang diatribusikannya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Angka tersebut menggambarkan besarnya potensi ekonomi daerah yang perlu diikuti peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Meski demikian, ia mengajukan sejumlah pertanyaan mendasar: sejauh mana tenaga kerja lokal memperoleh kesempatan bekerja di kawasan industri? Seberapa besar keberadaan pabrik memberikan dampak terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta perekonomian masyarakat desa?

Menurut Heru, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui nilai investasi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat setempat merasakan manfaatnya secara langsung.

Wilayah Utara dan Potensi yang Perlu Dijaga

Berbeda dengan kawasan selatan yang didominasi aktivitas industri, wilayah utara Kabupaten Bekasi memiliki karakter agraris dan pesisir.

Kecamatan Sukatani, Sukakarya, Cabangbungin, Babelan, Tarumajaya, hingga Muaragembong menyimpan potensi pertanian, perikanan, tambak, dan ekosistem mangrove.

Namun, wilayah tersebut juga menghadapi persoalan infrastruktur, irigasi, banjir rob, abrasi, serta tantangan penghidupan petani dan nelayan.

Heru menilai, Muaragembong tidak semestinya hanya dipandang sebagai wilayah pinggiran. Kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan dan lingkungan pesisir Kabupaten Bekasi.

Selain pertanian dan perikanan, potensi minyak dan gas bumi di sejumlah wilayah juga menjadi bagian dari sumber daya alam yang perlu dikelola secara transparan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Cikarang Pusat sebagai Penghubung Pembangunan

Di antara kawasan industri selatan dan wilayah pertanian-pesisir utara, Cikarang Pusat berkembang sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas perkotaan.

Kehadiran perkantoran pemerintahan, pusat perdagangan, fasilitas pendidikan, serta layanan kesehatan menunjukkan perubahan kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Heru memandang Cikarang Pusat memiliki posisi strategis untuk menghubungkan arah pembangunan kedua wilayah.

Ia mengingatkan bahwa pembangunan perkotaan tidak seharusnya hanya berorientasi pada pusat perbelanjaan dan kawasan komersial, tetapi juga perlu memperhatikan transportasi, ruang publik, akses pelayanan dasar, dan keterhubungan antarwilayah.

Enam Potensi yang Perlu Dikembangkan

Dalam refleksinya, Heru merangkum enam potensi Kabupaten Bekasi yang menurutnya perlu dikembangkan secara terpadu.

Pertama, kawasan industri dan investasi, dengan memperluas kesempatan kerja bagi warga lokal serta mendorong pertumbuhan usaha masyarakat.

Kedua, lumbung pangan dan pesisir utara, melalui perlindungan lahan pertanian, perbaikan irigasi, penguatan perikanan, dan pelestarian mangrove.

Ketiga, energi dan sumber daya alam, dengan mengedepankan tata kelola yang transparan serta manfaat yang terukur bagi daerah dan masyarakat.

Keempat, pengembangan kawasan perkotaan, terutama melalui peningkatan transportasi, fasilitas umum, dan ruang publik yang dapat diakses masyarakat.

Kelima, optimalisasi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Heru menilai program CSR yang didorong pada era Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, perlu diarahkan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat desa.

Menurutnya, program tersebut dapat difokuskan pada peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan, pengembangan UMKM, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Pelaksanaannya juga perlu memiliki target dan indikator manfaat yang jelas.

Keenam, pengembangan wisata berbasis masyarakat, seperti Jembatan Cinta Tarumajaya, Alun-alun Setu, dan Karang Kitri Bojongmangu. Pengembangan destinasi wisata diharapkan membuka peluang usaha bagi warga, bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan.

Anggaran Daerah dan Ukuran Kesejahteraan

Heru juga menyoroti besarnya jumlah penduduk dan kapasitas fiskal Kabupaten Bekasi sebagai modal pembangunan sekaligus tanggung jawab pemerintah daerah.

Dalam tulisannya, ia mencantumkan data SIDANTA Semester I 2026 yang mencatat jumlah penduduk Kabupaten Bekasi sebanyak 3.508.296 jiwa. Ia juga menyebut APBD 2025 sekitar Rp7,6 triliun, dengan pendapatan asli daerah (PAD) sekitar Rp4,1 triliun.

Angka-angka tersebut, menurut Heru, perlu diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas pelayanan publik yang dapat dirasakan masyarakat hingga tingkat desa.

Ia mencontohkan kebutuhan perbaikan jalan rusak di Sukatani, pembenahan ruang kelas di Muaragembong, hingga peningkatan pelayanan kesehatan di Babelan.

Baginya, pembangunan daerah tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh ketepatan alokasi belanja, kualitas pelaksanaan program, dan pemerataan hasilnya.

Satu Kabupaten, Satu Arah Pembangunan

Menutup refleksinya, Heru menekankan pentingnya menyatukan arah pembangunan Kabupaten Bekasi agar pertumbuhan industri di selatan tidak berjalan sendiri, sementara potensi pertanian dan pesisir di utara tertinggal.

Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan semboyan Kabupaten Bekasi, Swatantra Wibawa Mukti, yang menjadi pengingat tentang kemandirian, kewibawaan, dan kemakmuran daerah.

Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan harus mampu menghubungkan kekuatan industri, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

“Dari industri untuk peradaban. Dari utara hingga selatan, pembangunan harus menghadirkan kesempatan yang sama,” demikian gagasan utama yang disampaikan Heru dalam catatannya.

Ia berharap Kabupaten Bekasi dapat bergerak menuju pembangunan yang lebih terpadu, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka investasi, tetapi juga dirasakan masyarakat di seluruh wilayah.

(Red)

Bekasi 18 Oktober 2026

Opini : oleh Heru Budian  mantan Jurnalis Koran Harian Karawang Bekasi Ekspres (KBE)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less