Dokter Rekso Di Ujung Bayonet Revolusi?

Dokter Rekso Di Ujung Bayonet Revolusi?

RENGAT, – Temporatur.com || Sejarah sering kali bekerja dengan cara yang ironis, bahkan nyaris sarkastis. Di tengah eforia kemerdekaan 1945 yang meluap-luap, garis antara kawan dan lawan kerap kali menjadi kabur, tertutup oleh kabut paranoia dan sentimen buta. Letkol Ckm. dr. Reksodiwiryo Wiyotoarjo lahir di Malang 7 Januari 1910 – wafat di Yogyakarta 21 Januari 1964 pada usia 63 Tahun. Dr Rekso seorang ahli bedah lulusan Geneeskundige Hoogeschool te Batavia (GHS), hampir saja menjadi tumbal dari sebuah akronim yang disalahartikan.

TRAGEDI SALAH TAFSIR

Januari 1946, Rengat sedang membara. Dokter Rekso, yang saat itu menjabat sebagai dokter onderafdeling, aktif dalam organisasi bernama Gerakan Indonesia Muda (GIM). Niatnya suci: mengonsolidasikan pemuda untuk mengawal kedaulatan yang baru seumur jagung. Namun, di telinga massa yang terlanjur curiga pada siapa pun yang berpendidikan Belanda, GIM dipelintir menjadi Geen Indonesische Macht—sebuah frasa bahasa Belanda yang berarti “Tidak Ada Kekuasaan Indonesia”.

Tuduhan tak berdasar pun menyambar liar bak api di padang ilalang. Rekso dituding sebagai kaki tangan NICA, bahkan difitnah telah meracuni pemuda-pemudi Rengat. Dalam sekejap, sang penyembuh berubah menjadi pesakitan. Ia ditangkap oleh laskar pemuda dan diserahkan ke Polisi Tentara. Di sebuah ruangan pengap, desakan untuk mengeksekusi mati Dokter Rekso menguat. Lubang barangkali sudah digali, dan bayonet sudah diasah.

DIPLOMASI DI MEJA INTEROGASI

Kabar penahanan Rekso sampai ke telinga Letnan Kolonel Hasan Basri, Komandan Resimen IV/Pekanbaru. Ia segera mengirim perwira kesehatannya, Pembantu Letnan Mochtardin, bersama satu pleton tentara untuk melakukan verifikasi. Di Rengat, Mochtardin berhadapan dengan tembok keras: seorang aktivis pemuda dengan mata merah terus mendesak agar Rekso dan keluarganya segera dihabiskan.

Bacaan Lainnya

Namun, Mochtardin menggunakan logika yang melampaui emosi massa. Dalam sebuah rapat yang menentukan hidup-mati itu, ia melemparkan argumen pragmatis: “Di Rengat hanya ada dua ahli bedah. Jika Dokter Rekso dibunuh, kita kehilangan aset berharga. Lebih bermanfaat tenaganya kita gunakan untuk perjuangan”.
Argumen itu telak. Nyawa Rekso terselamatkan oleh kelangkaan profesinya dan akal sehat perwira lapangan.

GERILYA DAN FORENSIK DI BELANTARA

Pasca-insiden maut tersebut, Dokter Rekso dikirim ke Bukittinggi dan memulai pengabdian panjangnya di Sumatera Barat. Sejarah mencatat ia memimpin Dinas Kesehatan Tentara di Sawahlunto. Saat Agresi Militer Belanda II pecah, ia tak duduk diam di balik meja bedah. Rekso memboyong anak dan istrinya masuk ke hutan, menempuh 40 kawasan dalam operasi “gerilya kesehatan”.

Tak hanya memegang pisau bedah, Rekso juga berperan sebagai pionir forensik militer. Bersama Badan Siasat Perang (intelijen Sumbar), ia melakukan visum et repertum pada jenazah Pembantu Letnan A. Moenaf “Baruang” di lereng bukit Singkarak. Dengan ketelitian seorang ilmuwan, ia mengurai penyebab kematian sang letnan—dipukul linggis dan ditembak—meski jenazah telah terkubur setahun lamanya.

Karier Rekso mencapai puncaknya di Jakarta. Pada 1952, ia didapuk menjadi Kepala Rumah Sakit Tentara Pusat (RSTP), yang kini kita kenal sebagai RSPAD Gatot Soebroto. Ia adalah orang Indonesia kedua yang memimpin institusi medis militer tertinggi tersebut dengan masa jabatan 1952–1956. Dr. Rekso menata fondasi kesehatan angkatan darat di atas puing-puing manajemen Belanda. Nama Reksodiwiryo kini abadi, melekat pada Rumah Sakit Tingkat III di Padang sebagai pengingat akan seorang dokter yang hampir dibunuh oleh bangsanya sendiri, namun memilih untuk tetap menyembuhkan mereka hingga akhir hayatnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *