Demonstrasi Sebagai Cermin, Refleksi Ala Romo Kefas untuk Bangsa
Oleh: Suryo Sudarmo
Temporatur.com, Bekasi, – Tragedi jatuhnya korban dalam demonstrasi di Jakarta dan diberbagai kota lainnya telah menggugah keprihatinan berbagai pihak. Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Pewarna Indonesia, melalui Direkturnya, Kefas Hervin Devananda alias Romo Kefas, menyampaikan pandangan mendalam yang mengajak kita untuk merefleksikan makna dari aksi demonstrasi itu sendiri. Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai cermin kegelisahan dan harapan yang selama ini mungkin terabaikan.
Romo Kefas, dalam berbagai kesempatan, dikenal sebagai sosok yang kritis namun tetap mengedepankan dialog dan pendekatan humanis. Kali ini, ia kembali menyerukan agar penanganan demonstrasi dilakukan secara lebih manusiawi dan transparan. Kritiknya terhadap penggunaan kekerasan berlebihan oleh aparat keamanan patut menjadi catatan penting.
“Nrimo ing Pandum” dan Penanganan yang Humanis
Prinsip Jawa “Nrimo ing Pandum”, yang berarti menerima dengan lapang dada dan tidak memaksakan kehendak, menjadi landasan pemikiran Romo Kefas dalam melihat persoalan demonstrasi. Penanganan demonstrasi, menurutnya, seharusnya mengedepankan dialog dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan. Tindakan represif justru akan semakin memperburuk situasi dan menjauhkan solusi.
Tragedi meninggalnya pengemudi ojek dalam aksi demonstrasi baru-baru ini menjadi bukti nyata betapa pentingnya penanganan yang mengesampingkan impunitas dan menjunjung tinggi keadilan. Penyelidikan yang jujur dan transparan harus dilakukan untuk mengungkap kebenaran dan memberikan keadilan bagi korban serta keluarganya.
“Dhamma” dan Pentingnya Mendengarkan Suara Rakyat
Romo Kefas juga mengingatkan tentang pentingnya kebijaksanaan dan kesadaran dalam bertindak, yang sejalan dengan filsafat “Dhamma”. Ia menyerukan agar suara rakyat didengar dan dipahami, bukan dibungkam atau diabaikan. Suara rakyat adalah cermin dari kebutuhan dan aspirasi masyarakat, yang harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan yang diambil.
Pemerintah dan para politisi seharusnya tidak alergi terhadap kritik dan demonstrasi. Sebaliknya, mereka harus melihatnya sebagai masukan berharga untuk memperbaiki kinerja dan memastikan bahwa kebijakan yang dibuat benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat.
“Tri Hita Karana” dan Ruang Perjuangan yang Bermoral
Romo Kefas mengajak masyarakat untuk tetap menjaga ruang perjuangan tetap bermoral dan beradab, sesuai dengan prinsip “Tri Hita Karana” yang menekankan harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Amarah boleh saja ada, namun jangan sampai mengaburkan akal sehat dan menjauhkan kita dari tujuan yang ingin dicapai.
Perjuangan untuk perubahan harus dilakukan dengan cara yang baik dan benar, tanpa kekerasan dan tanpa merugikan orang lain. Dengan menjaga moralitas dan etika dalam berjuang, kita akan lebih mudah meraih simpati dan dukungan dari masyarakat luas.
“Ubuntu” dan Empati untuk Para Politisi
Secara khusus, Romo Kefas menyerukan kepada para politisi untuk tidak menafsirkan kemarahan rakyat sebagai alat politik, melainkan memahami kebutuhan dan aspirasi rakyat. Mereka harus memiliki kesadaran dan empati terhadap sesama manusia, yang sejalan dengan filsafat “Ubuntu”.
Politisi harus menyadari bahwa setiap kebijakan yang mereka buat memiliki dampak yang signifikan bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, mereka harus berhati-hati dan mempertimbangkan segala aspek sebelum mengambil keputusan. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru memperburuk keadaan dan menambah luka bagi masyarakat.
Kesimpulan: Membangun Bangsa dengan Refleksi dan Persatuan
Romo Kefas mengingatkan kita bahwa membangun bangsa ini membutuhkan refleksi, keberanian untuk berubah, dan mendengarkan suara rakyat. Mari kita saling menyadari dan menjaga kondusifitas bangsa agar tetap saling mendukung sesama anak bangsa. Kita harus menjadi bangsa yang kuat dan bersatu, bukan bangsa yang terpecah belah dan lemah.
Dengan demikian, bangsa ini dapat menjadi lebih harmonis dan setara, serta mencapai kemajuan yang berkelanjutan. Seruan Romo Kefas ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus berupaya membangun Indonesia yang lebih baik, dengan landasan moralitas, keadilan, dan persatuan.
Sumber: Jangkar Pena













