Estimasi Cara Menghitung Produksi dan BJR Kelapa Sawit

Estimasi Cara Menghitung Produksi dan BJR Kelapa Sawit

Estimasi Cara Menghitung Produksi dan BJR Kelapa Sawit

Kaltim- Temporatur.com | Melakukan estimasi produksi telah menjadi pekerjaan rutin di perkebunan kelapa sawit, apalagi kegiatan ini berkaitan dengan faktor lainnya yang bersinggungan dengan proses budidaya. Estimasi produksi harus dilakukan dengan tepat dan jangn pernah luput.

Belum lama ini muncul pertanyaan dalam timeline disalah satu media sosial Facebook favorit masyarakat, berikut pertanyaannya, Bagaimana cara menghitung potensi produksi.”

Sekilas pertanyaan tersebut demikian sederhana, padahal sejatinya tidak demikian, lantaran jawaban dari pertanyaan tersebut butuh pemaparan yang mendalam, sebab harus mentabulasikan berbagai faktor, yang diantaranya faktor iklim,berkaitan dengan utamanya curah hujan, termasuk faktor penyinaran matahari, dan faktor tanah terkait dengan kedalaman solum, kemiringan lereng, tekstur dan lain sebagainya.

Supaya pembahasannya tidak melebar luas, maka pertanyaan itu akan dipersempit dan dibatasi bukan lagi “menghitung potensi produksi” melainkan “Bagaimna cara menghitung estimasi produksi”, sebab berdasarkan pandangan penulis, guna menghitung potensi produksi bukan diskusi yang mudah dan bukan konsumsi para ergonomis atau pekerja lapangan, melainkan bakal menjadi konsumsi para pengambil keputusan (Menajemen). Sebab itu pembahasan artikel ini hanya akan dibatasi pada pembahasan estimasi produksi.

Nah, mari kita bahas, sekalipun menurut penulis bagian ini adalah banyak berkaitan dengan perhitungan matematika belaka, namun demikian beberapa teori dan teknisnya mesti pula dipahami.

Bacaan Lainnya

Untuk awalan yang mesti diketahui dan angkanya harus pasti ialah :

1. Jumlah pokok produksi dalam satu blok, tidak termasuk sisipan dan pokok abnormal. Didapatkan dari hasil sensus pokok yang biasanya digunakan dalam master data atau data base.

2. Berat Janjang Rata-rata (BJR), didapatkan dari total berat Janjang dibagi jumlah janjang, misalnya total berat Janjang 4000 kg dengan jumlah janjang 200 janjang maka BJR nya 20 kg. Dalam perhitungan estimasi bulan berikutnya menggunakan BJR bulan sebelumnya.

3. Jumlah Pokok Sample, yakni jumlah semua pokok produktif pada barisan sample yang telah ditentukan, misalnya baris sample dimulai dari baris ke 3 dengan kelipatan setiap 20 baris dimana setiap baris terdapat 27 pokok baris sampel, dan dalam satu blok terdapat 126 baris sehingga jumlah baris sampel adalah 7 baris, maka jumlah pokok sampel 7 x 27 pokok = 189 pokok.

4. Jumlah Tandan Sampel, yakni jumlah semua tandan mulai dari buah kopi sampai buah matang panen pada pokok sampel yang telah ditentukan. Sangat penting: untuk sensus 4 bulanan sebaiknya dilakukan setelah panen terakhir pada blok yang disensus, jika masih ada rotasi panen berikutnya maka buah yang sudah membrondol tidak dihitung karena akan dipanen rotasi berikutnya. Dalam kontek ini kita umpamakan terdapat 945 janjang.

5. Janjang per pokok yakni jumlah semua janjang yang dihitung dibagi dengan jumlah pokok sampel, dari penjelasan di atas 945 : 189 = 5 janjang per pokok.

6. Buah Kopi, yakni janjang yang paling muda (seperti biji kopi) yang dihitung sebagai sampel.

7. Bunga Cengkeh, masih berbentuk bunga sehingga tidak masuk dalam hitungan sensus produksi 4 bulanan. Bunga ini masih berpeluang untuk aborsi, maka per lakukanlah dia dengan penuh perhatian dan kasih sayang.

8. Buah merah (ini sedikit sulit sebab ada buah yang tidak merah) yakni buah mengkal yang dalam waktu dekat siap panen.

9. Bunga betinta reseptif, yakni bunga yang siap untuk diserbuki yang sangat menggoda bagi kumbang penyerbuk. Untuk sensus 6 bulan atau semester bunga ini dan poin no 9 masuk dalam hitungan.

10. Distribusi produksi, yakni perkiraan distribusi produksi setiap bulannya yang diambil dari rata-rata presentase perbulan secara aktual selama 5 tahun terakhir atau minimal 3 tahun terakhir. Jika tidak ada datanya boleh lirik tetangga sebelah (semoga tetangga mau berbagi) atau cari di literatur juga boleh daripada tidak punya dasar sama sekali.

Selanjutnya akan sangat baik jika pengalaman dan naluri planters dikombinasikan dengan angka distribusi. Sebaiknya jangan berpedoman mutlak pada angka distribusi. Sebab setiap pemanen saja paham dan tahu benar kapan waktu akan panen puncak atau panen raya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *