Dalam Memilih Calon Legislatif, Hendaknya Tak Tergiur Janji Manis dan Uang Cendol

Dalam Memilih Calon Legislatif, Hendaknya Tak Tergiur Janji Manis dan Uang Cendol
Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

BEKASI- JABAR || TEMPORATUR.COM

Menjelang pelaksanaan kampanye pemilihan legislatif yang akan di gelar secara serentak pada tanggal 28 November 2023, Masyarakat hendaknya tidak tergiur oleh janji manis dan uang cendol semata yang masih menggunakan sistem money politik yang diberikan kepada masyarakat calon pemilihnya, baik dalam memilih calon anggota DPRD maupun DPR RI.

“Karena bagaimanapun nasib masa depan kita sebagai rakyat akan ditentukan oleh para wakil rakyat yang akan memperjuangkan aspirasi rakyat di Parlemen nanti, sehingga memilih harus berdasarkan rekam jejak dan figur yang baik dan siap menghibahkan dirinya untuk mengabdi kepada rakyat, bukan memilih hanya sekedar tergiur janji manis, dan ukuran nilai uang cendol yang gak seberapa nilainya,”ucap Pengurus Bidang Kominfo DPP KNPI Pusat, Heru Budian Timor, Jumat (08/09/2023).

Menurut Heru hal ini penting untuk disampaikan kepada masyarakat, terutama di daerah pedesaan yang masih pragmatis dalam memilih calon wakil rakyat di daerahnya, tampa lagi mempertimbangkan lagi jejak rekam dari figur yang akan di pilihnya.

“Dan harusnya Penyelenggara Pemilu juga ikut bertanggung jawab, dan aktif memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, agar pemilu yang dihasilkan betul- betul menampilkan figur yang berkualitas dan mampu dalam memperjuangkan setiap aspirasi rakyat dalam Lima tahun ke depan,”ucap pria yang juga Penasehat Pokja Wartawan Kabupaten Bekasi.

Karena biasanya, para calon legislatif yang akan mencalonkan diri saat jelang kampanye akan rajin turun ditengah masyarakat dengan segudang janji gombal untuk mengambil simpati dan dukungan kepada mereka, namun seiring sejalan saat masyarakat sedang dalam keadaan susah ataupun musibah tidak ada satupun yang datang ditengah masyarakat, sekalipun datang bukan orangnya, melainkan kadernya hanya bantuan ala kadarnya.

Bacaan Lainnya

“Namun anehnya banyak sekali kejadian seperti itu, masyarakat pada waktunya pemilihan kadang hilang akal sehatnya, bahkan kalah oleh nilai uang cendol yang gak seberapa nilainya, artinya ini kurangnya pemahaman dan pendidikan politik bagi masyarakat,terutama masyarakat yang masih menganut prinsip pragmatis, ada uang cendol gue Coblos, gak ada uang cendol gue ge ogah nyoblosnya,” terangnya.

Bahkan hal itu, bukan hanya dalam pemilu saja, namun saat Pilkades juga begitu, banyak yang mengaku menyesal telah mendukung Kades si A atau si B, tapi saat pelaksanaan kampanye tetap aja yang menang mayoritas suara terbanyak kades terpilih itu-itu juga orangnya, padahal yang setiap hari selalu jadi bahan diskusi atas sosok kades yang selalu mementingkan pribadi dan golongannya, daripada mementingkan kepentingan masyarakat di desanya.

“Ini kan fenomena yang harus di rubah pola pikirnya, gimana daerahnya ingin maju kalau dalam sistem pemilihan menentukan pilihannya tidak di dasari oleh pandangan dan pemahaman politik yang baik, namun lebih kepada nilai uang cendol yang diberikan,”pungkasnya.

Karena itu, kalau sistem pola pemikiran terus seperti ini dibiarkan, tampa ada perubahan paradigma pemikirannya di masyarakat, banyak tokoh atau figur potensial dan punya kemampuan serta kualitas dalam kepemimpinannya harus kandas oleh figur dan calon yang memiliki modal cukup banyak untuk membeli suara masyarakat, karena dengan faktor masyarakat yang masih menganut prinsip pragmatis menimbulkan biaya kampanye seseorang akan semakin tinggi nilainya, terutama dalam menyiapkan uang cendol untuk masyarakat calon pemilihnya.

“Sehingga apa yang terjadi kalau sistem pemilu pragmatis ini terus terjadi, akan semakin tinggi cosh pengeluaran biaya politik untuk kampanye membengkak, dan akan melakukan segala cara untuk meraih kemenangan suara, walaupun harus pinjam sini pinjam sana, yang penting hasilnya menang,”tuturnya.

Dan, kemudian apa yang terjadi jika calon tersebut menang dan terpilih, akan mempunyai beban di pundaknya untuk bayar hutang, bukan lagi memikirkan nasib rakyat yang sudah memilihnya, disitulah akan ada potensi KKN terjadi.

“Mudah-mudahan kita berharap itu tidak terjadi, dan kita harus tetap optimis masih banyak figur calon wakil rakyat, baik yang incumbent maupun yang baru masih banyak yang masih memiliki integritas tinggi dan jejak rekam yang baik, sehingga menjadi pilihan untuk konstituennya dalam menentukan pilihannya nanti dengan pikiran jernih tampa ada embel embel uang cendolnya dengan ikhlas mencoblosnya, aamiin,”pungkasnya. (RED)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *