Temporatur.com

Menyibak Fakta Terpercaya

MAFIA TANAH MASIH BERKELIARAN DI KABUPATEN BANDUNG

Temporatur.com

Gerakan Pemberantasan Mafia Tanah oleh Kementerian ATR/BPN bekerjasama dengan penegak
hukum ternyata masih belum memberikan perlindungan optimal terhadap tanah-tanah masyarakat
di wilayah Kabupaten Bandung. Hal ini terbukti dengan adanya penerbitan sertipikat di atas lahan
yang telah digarap, dimiliki dan dikuasai oleh pemilik lahan di Desa Citeureup Kecamatan
Dayeuhkolot Kabupaten Bandung, yang kasusnya saat ini bergulir di tingkat kasasi.

Pemilik lahan atas nama Ibu Kuraesin dan Ibu Halimah merasa kaget ketika bermaksud mengurus
sertipikat pada Januari 2022, ternyata tiba-tiba ada pihak yang mengaku sebagai pemilik dengan
sertipikat hak milik Nomor 01601, atas lahan yang mereka peroleh dari pembagian waris dari
almarhum ayah mereka yang bahkan telah digarap sebelum era Kemerdekaan RI.

Awalnya pihak pemegang sertipikat hanya memperlihatkan sekilas wujud sertipikat tersebut kepada
Ibu Halimah dan Ibu Kuraesin dan tidak memperkenankan sertipikat tersebut untuk dicermati.
Karena rasa penasaran maka Ibu Halimah dan Ibu Kuraesin menunjuk Advokat untuk mengkonfirmasi
dan melakukan upaya hukum atas penerbitan sertipikat yang terkesan gelap-gelapan tersebut.

Setelah pihak kuasa hukum atas nama DIAR PURBAYU BASARY dan Rekan mengkonfirmasi ke Kantor
Pertanahan Kabupaten Bandung, barulah pihak Ibu Halimah dan Ibu Kuraesin kaget. “Teu nyangka,
ujug-ujug aya sertipikat di atas tanah kami yang telah kami garap dan kuasai terus menerus sejak
tahun 1969”, ujar Asep salah satu anak Ibu Kuraesin dengan nada kesal kepada pihak Kantor
Pertanahan Kabupaten Bandung.
Usut punya usut ternyata sertipikat tersebut pertama kali terbit pada 17-09-2020. Padahal pada
tanggal 03-08-2020 Kepala Desa Citeureup telah mengirimkasn surat Nomor: 005/042/VIII/2020
perihal Penolakan Penerbitan Sertipikat Hak Milik atas tanah tersebut. Namun ternyata pihak Kantor
Pertanahan Kabupaten Bandung tetap bersikukuh menerbitkan sertipikat.
Fidel, advokat yang saat ini menjadi kuasa Ibu Kuraesin dan ibu Halimah dalam pengurusan tanah
tersebut menduga ada permainan mafia tanah dalam penerbitan sertipikat tersebut. “Dalam kasus
ini jelas sekali bahwa oknum kantor pertanahan ada ikut bermain dengan sindikat mafia tanah,
terlihat dari pengabaikan pencabutan warkah oleh kepala desa, ada keterlibtan oknum polisi dengan
kepala Desa dayeuhkolot, serta pola hubungan dengan pembeli dan pihak yang mengaku-ngaku
sebagai pemilik waris. Semua terang benderang, dan sangat aneh kalau tidak segera ditindak oleh
aparat penegak hukum” ujar Fidel.
Saat ini, selain menunggu putusan kasasi, pihak Fidel sedang melakukan aduan terhadap perbuatan
pidana yang melibatkan sindikat mafia tanah. Aduan telah disampaikan kepada Kanwil ATR/BPN Jawa
Barat dan Kapolda Jabar selaku koordinator pemberantasan mafia tanah dengan tembusan kepada
Menteri ATR/Kepala BPN serta kepada Kantor Staf Kepresidenan. “Kasus ini tidak hanya
memperjuangkan hak pemilik yang sebenarnya atas tanah di desa Citeureup tapi bisa menjadi titik
tolak membongkar permainan sindikat mafia tanah di Kabupaten Bandung”, ujar Fidel dengan optimis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *