Temporatur.com

Menyibak Fakta Terpercaya

Diskusi Seru Para Tokoh di Grup WhatsApp WARGA BEKASI MAHADAYA: Pandangan Beragam Tentang Kepemimpinan dan Kondisi Bekasi

Diskusi Seru Para Tokoh di Grup WhatsApp WARGA BEKASI MAHADAYA: Pandangan Beragam Tentang Kepemimpinan dan Kondisi Bekasi

Bekasi|| Temporatur.com

Dalam grup WhatsApp WARGA BEKASI MAHADAYA, diskusi yang berlangsung pada tanggal 9 Juni menjadi ajang perdebatan hangat mengenai kepemimpinan dan berbagai isu yang dihadapi Bekasi. Para tokoh masyarakat berbagi pandangan mereka, mengangkat berbagai perspektif tentang bagaimana seharusnya Bekasi dipimpin dan tantangan apa saja yang perlu segera diatasi.

Raden Syarifah membuka diskusi dengan semangat, mendorong para tokoh Bekasi untuk bersatu dan mendukung pidato Nalib Zainudin pada saat acara Bekasi mencari pemimpin di pangung Maikarta di luar. Dia menyatakan, “mengajak para warga berpengaruh di Kabupaten Bekasi bersatu, ia juga menyoroti pidatonya Pidato Baba Haji Nalib Zainudin⁩” yang cukup memuaskan
Kreen bangat “ujarnya 【9/6 07.09.

JUNAEDI.S.Sos kemudian menekankan pentingnya kompetensi dalam kepemimpinan, terutama untuk posisi Bupati. Dia mengingatkan bahwa memiliki uang saja tidak cukup, “Jadi pemimpin juga tidak cukup cuma punya duit saja, tentunya ilmunya juga harus cukup, leadersifnya, apalagi Bupati ilmu tentang tata kelola pemerintahan, bukan tibang duit saja”【9/6 07.18】.

Sementara itu,Zuli Zulkipli S.H menegaskan peran uang dalam pemilihan, mengatakan, “Duit no 1 ji. No berikutnya ya ngikuti”【9/6 07.19】. JUNAEDI.S.Sos menanggapi dengan menyatakan bahwa meskipun uang penting, itu bukan segalanya, “Duit bukan segalanya, walaupun segala apa pake duit”【9/6 07.19】.

HK.Damin SADA memberikan refleksi mendalam tentang tujuan berpolitik, mengajukan pertanyaan penting tentang motivasi di balik keterlibatan dalam politik, “Hidup adalah pilihan ikut di politik partai itu bagus bahkan sangat bagus agar orang2 bagus bisa memimpin negeri ini. Pertanyaannya apa tujuan kita ikut di politik partai? Untuk pribadi? Untuk Bekasi? Untuk Indonesia atau untuk apa?”【9/6 07.46】.

Diskusi semakin mendalam ketika Sudarisman menyoroti berbagai masalah krusial yang dihadapi Bekasi, mencatat bahwa daerah tersebut dalam keadaan darurat di berbagai aspek seperti kemiskinan, lapangan pekerjaan, dan infrastruktur. Dia menulis, “Bekasi dalam kedaruratan baik mengenai: 1. Kemiskinan 2. Lapangan pekerjaan 3. Infrastruktur 4. Sampai 5. Pencemaran sungai 6. Pendangkalan sungai 7. Gagal panen 8. Kerawanan sosial”【9/6 09.53】.

Menutup diskusi, Zuli Zulkipli S.H menyerukan kolaborasi antara wilayah Utara dan Selatan Bekasi untuk mengatasi masalah yang ada, “Kolaborasi Utara dan Selatan untuk masyarakat kabupaten Bekasi”【9/6 10.57】.

Diskusi ini mencerminkan pandangan yang beragam dan mendalam mengenai tantangan yang dihadapi Bekasi, menekankan pentingnya kompetensi, integritas, kolaborasi, serta peran strategis uang dalam politik lokal. Tokoh-tokoh ini menunjukkan komitmen mereka untuk mencari solusi terbaik bagi kesejahteraan masyarakat Bekasi. **

(Erwin/ Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *