Opini Publik vs Klaim Korporat: Proyek Pintu Air Sukamulya “Aman” di Tengah Sorotan, Sekadar Alibi?
Pembangunan pintu air tersier di wilayah Sukamulya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, kini menjadi buah bibir masyarakat.
Munculnya keraguan publik terhadap kualitas fisik konstruksi memicu polemik panas antara warga dan pihak pelaksana proyek.
Di tengah tudingan adanya kerusakan struktural berupa patah pada bagian badan pintu air, Rian, perwakilan dari PT. Basuki Rahmanta Putra (BRP), mengeluarkan pernyataan kontras. Ia mengklaim bahwa kondisi infrastruktur tersebut masih dalam kategori aman
Klaim “Hanya Perbaikan”
yang Mengundang Tanya
Rian perwakilan pihak PT. BRP membantah adanya bagian yang patah pada pintu air yang sedang dikerjakan. Menurut mereka, apa yang disaksikan warga bukanlah kerusakan fatal, melainkan sekadar proses “perbaikan” yang menjadi bagian dari tahap penyempurnaan proyek.
“Siap bang.. lagi perbaikan dan pemeliharaan, kalo pintu nya aman nggak patah,” tulis Rian saat dikonfirmasi melalui telepon selulernnya, pada Senin 9/2/2026.
Namun, dalih ini dinilai publik sebagai upaya diplomatis untuk menutupi potensi kegagalan konstruksi sejak dini.
Muncul pertanyaan mendasar
Jika proyek dibangun sesuai spesifikasi teknis (bestek) sejak awal, mengapa harus ada perbaikan yang memicu spekulasi kerusakan masif?
“Istilah ‘masih dalam perbaikan’ sering kali menjadi tameng klasik kontraktor saat kualitas pekerjaan di lapangan mulai dipertanyakan,” ujar salah satu warga yang mengamati lokasi proyek, Selasa (10/02/2026).
Anggaran Fantastis Rp47 Miliar di Bawah Mikroskop Publik
Proyek ini merupakan bagian dari paket Normalisasi Sungai Srengseng Hilir milik BBWS Citarum dengan nilai anggaran yang fantastis, yakni sekitar Rp47 Miliar.
Mengingat besarnya dana negara yang dikucurkan, pengawasan ketat menjadi harga mati.
Farid, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut, menyatakan akan segera melakukan pengecekan lapangan. Ia berjanji akan memperbaiki kekurangan serta menampung masukan masyarakat terkait pembuatan pintu air tersier tersebut.
Audit Kualitas: Harga Mati untuk Transparansi
Pernyataan “aman” dari internal perusahaan tidak serta-merta meredam kekhawatiran. Publik kini mendesak adanya kroscek lapangan secara transparan oleh tim pengawas independen.
Hal ini krusial mengingat catatan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang kerap menemukan ketidaksesuaian spesifikasi pada proyek infrastruktur skala besar yang berujung pada kerugian negara.
Antara Estetika dan Fungsi Struktural
Ketajaman kritik warga Sukamulya bukanlah tanpa alasan. Sejarah membuktikan banyak proyek infrastruktur diwarnai klaim serupa namun berakhir ambruk sebelum masa pakainya habis.
Masyarakat kini menunggu pembuktian nyata: apakah klaim “aman” PT. BRP adalah kebenaran teknis, atau sekadar narasi penyelamat untuk menghindari jerat hukum dan denda?
Infrastruktur publik bukanlah ajang coba-coba atau perbaikan tambal sulam, terutama saat puluhan miliar uang rakyat dipertaruhkan.
(SS/Red)















